Modifikasi Prilaku

Modifikasi Prilaku

Kelompok 7 :

Apa itu modifikasi prilaku ?

Modifikasi prilaku dapat diartikan sebagai teknik yang diformulasikan untuk meningkatkan frekuensi dari perilaku yang diinginkan dan menurunkan kemunculan perilaku yang tidak diinginkan. Dalam hal ini, kami membahas pengaplikasian modifikasi prilaku dengan menggunakan teori teknik belajar yang dikemukakan oleh B.F Skinner.

Siapa itu B.F Skinner ?

B.F. Skinner (1904-1990) berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung (directed instruction) dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. 


Teorinya mengemukakan tentang adanya “cara kerja yang menentukan” (operant conditioning) yang terdiri dari stimulus yang menggugah yang dapat meningkatkan proses kerja serta usaha untuk memodifikasi perilaku dengan penguatan(reinforcement).

Apa itu Operant Conditioning ?

Operant Conditioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali (pengautan positif) atau menghilang sesuai dengan keinginan (penguatan negatif)

Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan. 

Skinner membuktikan teorinya dengan cara sebagai berikut :

Dalam laboratorium, Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “Skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan, yaitu tombol, alat memberi makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yang dapat dialiri listrik. Karena dorongan lapar (hunger drive), tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak kesana-kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shaping.

Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati, Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan.

Reinforcement (Penguatan) yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan pada perilaku yang tidak tepat.

Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang. Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
Kelebihan dan Kekurangan Teori Skinner.

Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. Hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.

Tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. Hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Beberapa kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa.

Contoh pengaplikasian teori Skinner terhadap Modifikasi Prilaku seseorang

Kita ambil contoh seorang mahasiswa TI yang tidak memahami bahasa pemrograman. Ini dikarenakan oleh beberapa sebab. Pertama karena belum pernah sama sekali menyentuh bahasa pemrograman. Dan masalah lainnya adalah kerana memang tidak ingin memahami bahasa pemrograman tersebut dengan malas belajar karena menganggap bahasa pemrograman ini sulit untuk dimengerti. Oleh karena itu, untuk dapat memahami bahasa pemrograman ini, maka dilakukan sebuah cara bagaimana agar mahasiswa TI tersebut dapat memahami bahasa pemrograman. Diberikan beberapa tugas kepada sang mahasiswa, dan jika ia tidak berhasil melakukannya, maka sang pendidik akan memberikan penguatan negative berupa tidak member imbalan, dalam hal ini memberikan nilai tidak bagus, bukan menghukumnya dengan membentak atau keluar diusir dari kelas. Karena penguatan negative ini, maka sang mahasiswa akan terus belajar, dan berusaha bagaimana caranya agar dapat membuat nilainya meningkat. Maka, sang mahasiswa terus belajar hingga akhirnya dia berhasil mengerjai tugas dan pendidik memberi imbalan dengan nilai bagus. Setelah ia mendapat nilai bagus, maka ia akan kembali berusaha bagaimana agar mempertahankan nilainya tersebut karena merasa bahawa dengan terus belajar, ia akan terus mendapat nilai yang bagus. Dengan ini terjadi suatu modifikasi prilaku, dimana seorang mahasiswa yang tidak memahami bahasa pemrograman menjada pandai dalam hal tersebut.

Jadi dapat disimpulkan, untuk memodifikasi prilaku seseorang tidak dapat kita lakukan dengan cara cepat, seperti, seseorang yang ingin berhenti merokok. Itu tidak dapat dilakukan dengan cepat, namun bertahap dan hal ini dapat dilakukan dengan mengaplikasikan teori yang dikemukakan oleh B.F Skinner. 

Sumber :

http://blog.unsri.ac.id/desipandora/welcome/teori-penguatan-skinner/mrdetail/15164
http://www.scribd.com/doc/8210451/Behavioristik-vs-Konstruktivistik-3
goeh.wordpress.com/2008/03/07/teori-belajar-menurut-bf-skinner/
http://images.rukawasuckdoank.multiply.com/attachment/0/SYUmMQoKCEoAACFMFgQ1/BUK

0 comments:

Post a Comment